Cerita Lucu Dosenku Juga Suamiku

Cerita Lucu Dosenku Juga Suamiku

Cerita Lucu Dosenku Juga Suamiku

Rey menelungkupkan wajahnya di bahu Dira, mengatur nafas dan emosinya sejenak.


“Makasih,” bisik Rey.

Dira menganggukan kepalanya. “Hm.. papa yang sabar aja, takdir Allah pasti yang terbaik.”

Rey menganggukan kepalanya, ucapan Dira benar. Setidaknya, saat ini Rey menjadi lebih baik.

Emosi Rey perlahan menjadi reda, ia tetap memeluk erat tubuh Dira.

“Ehm.. Pak?”

“Hm,” gumam Rey.

“Bapak tetap ada kerjaan, kan?” bisik Dira.

Rey menganggukan kepalanya. “Hm, sebentar lagi.”

Selang sebagian detik, Rey menegakkan kepalanya dan membiarkan pelukannya dengan Dira. Ia mundur sebagian langkah.

Dira menatap wajah Rey sejenak, ia kemudian melangkahkan kakinya dan lagi memeluk tubuh Rey.

Rey terkejut, ia perlahan membalas pelukan Dira.

“Kalo ada apa-apa, papa mampu bilang serupa saya. Ato.. papa mampu panggil aku ke sini, gapapa kalo papa ga mampu cerita. Saya paham, kok. Cuma, seenggaknya jangan di pendem sendiri, papa mampu bagi emosinya ke saya.” ucap Dira dengan lembut.

Rey menganggukan kepalanya, ia kemudian tersenyum simpul. “Hm,” gumam Rey.

“Inget, kami satu tim. Ga boleh egois, kalo satu sakit, satunya juga sakit.” ucap Dira.

Rey terkekeh mendengar ucapan Dira.

Dira langsung mendongakkan kepalanya, ia mengerutkan dahinya. “Kok malah ketawa, sih? Lagi serius, nih.”

Rey mencegah kekehannya, ia kemudian menganggukan kepalanya. “Iya, serius.”

Dira menatap Rey dengan tajam, memeriksa apakah Rey tengah serius atau tidak. “Ga serius, nih.”

Rey cuma tersenyum memandang tanggapan sang istri.

Dira kemudian membiarkan pelukannya dengan Rey, ia menatap Rey dengan jengkel. “Ga seru ah, ga kaya di film-film.”

Rey mengerutkan dahinya. “Gimana?” ucapnya dengan bingung.

“Harusnya kalo aku lagi serius, papa juga perlu serius. Bukan malah ketawa, kan feel nya ga dapet.” ucap Dira.

Rey meningkatkan sebelah alisnya, ia kemudian mencubit pipi Dira sejenak.

“Akh!” keluh Dira.

“Kebanyakan nonton drama kamu,” ucap Rey.

Dira menepuk-nepuk lengan Rey. “Sakit, Pak!”

Rey kemudian membiarkan cubitannya pada pipi Dira.

Dira menatap Rey dengan kesal, ia langsung mengambil berkas-berkasnya yang ada di atas meja Rey. “Saya permisi, bos.”

“Bentar,” ucap Rey menghentikan Dira.

Dira memutar kedua bola matanya dengan malas. “Apalagi, Pak?”

Rey mendekatkan wajahnya ke arah Dira, ia kemudian menunjuk pipi sebelah kanannya memakai jari telunjuknya.

Dira membelalakkan kedua bola matanya, PAK REY KESAMBET APAAN DAH?

“Hm,” gumam Rey.

Dira mengerjapkan matanya. “Serius, nih?”

“Serius, buruan. Kalo aku serius, kamu juga perlu serius. Biar kaya di film-film,” ucap Rey.

Dira mengerutkan dahinya, MAMPUS DI BALIKIN.

“Buruan,” ucap Rey.

Dira meneguk salivanya. “Ga gitu juga, Pak.”

“Trus gimana?” ucap Rey.

Dira terlihat berpikir, mencari alasan. “Pokoknya ga gitu,” ucapnya.

“Buruan,” ucap Rey.

“I..ya!”

Dira meneguk salivanya, ia langsung mencium Rey.

Dengan cepat, Rey merubah posisi kepalanya menghadap ke arah Dira.

Secara otomatis, bibir Dira melekat dengan bibir Rey.

Cup..

Rey langsung melumat bibir Dira sejenak, sebabkan Dira membelalakkan kedua bola matanya.

WOIII! KOK JADI GINI?!

“Hmftt..” gumam Dira.

Tangan kanan Rey langsung memegang tengkuk Dira, menekannya hingga sebabkan Dira mau tak mau menikmati lumatan Rey pada bibirnya.

Saat Dira hendak membiarkan ciumannya, Rey menggigit bibir bagian bawah Dira.

“Akh!” gumam Dira, pada sakit dan nikmat.

Sebelah tangan Dira memegang bahu Rey, mencengkeramnya dengan kuat. Berusaha sebabkan Rey membiarkan lumatannya.

Tapi, tidak mempan.

“Hmftt..”

Rey tetap melumat bibir Dira, tangan kirinya langsung memeluk pinggang Dira.

Dira mengerutkan dahinya, NTAR KALO GUE KELEPASAN BERABE NIH.

Mau tak mau, Dira selanjutnya mengambil jalan pintas.

Tangan Dira berubah ke pinggang Rey, ia langsung mencubit pinggang Rey dengan kuat.

Rey membelalakkan kedua bola matanya. “Akh!” pekiknya.

Kedua tangan Rey berada di pinggangnya, mencegah sakit berasal dari cubitan sang istri.

Dira tersenyum, selanjutnya ia bebas.

“Makanya Pak, jadi orang jangan curang.” ucap Dira.

Rey menatap Dira dengan tajam. “Sakit, Dira.”

Dira cuma menampilkan senyumnya, sebabkan Rey semakin kesal.

“Kamu..” ucap Rey.

Dira langsung menjauh berasal dari hadapan Rey. “Apa?”

“Sini kamu,” ucap Rey.

Dira mencebikkan bibirnya. “Ogah!”

Rey mengerutkan dahinya. “Katanya kalo satu sakit, satunya juga sakit.”

Dira meningkatkan kedua alisnya. “Oh, sakit ya? Get well soon, Pak!”

Rey semakin menajamkan tatapannya, namun Dira melupakan tatapan tajam tersebut.

“Anindira Maheswari!”

Dira menampilkan senyumnya. “Oke, bye!” ucapnya, ia langsung berlari terlihat berasal dari ruangan Rey.

“Dira!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *